ACEH SELATAN, labuhan haji barat. Suara azan dan ayam berkokok membangunkan saya untuk melaksanakan shalat subuh dua rakaat sebagai kewajiban seorang muslim. Doa pun tak lupa terpanjatkan untuk keluarga dan usaha juga kekasih tercinta. Peci dan sajadah saya lipat rapi dan disimpan di atas lemari kecil tempat semua pakaian saya. Langkah kecil perlahan berjalan membuka pintu toko usaha penggilingan MIE ACEH mentah.
Saya sudah bekerja disini lebih kurang dua setengah tahun lamanya. Alhamdulillah saya sangat betah dan mencintai pekerjaan ini. Terbukti lamannya waktu saya sudah bekerja. Ratusan konsumen telah mengenal saya dan kata mereka, tidak asik rasanya saat mereka datang tidak menjumpai saya. Disiplin,sportifitas dan kerja keras yg membuat mereka nyaman berlangganan dengan pekerjaan saya.
Walaupun hanya sebagai seorang pekerja, mereka para konsumen lebih akrab dengan saya dibandingkan bos atau atasan saya. Canda tawa ringan selalu saya sempatkan dengan tiap konsumen yg datang mengambil mie. Kadang sesekali saya berbagi info tentang resep bumbu mie yg lebih lezat dan khas MIE ACEH PIDIE.
Diantara ratusan pelanggan setia kami, ada satu konsumen yg spesial dan sangat spesial bagi saya. Dia adalah salah satu diantara puluhan pelanggan yg buat saya memilih bertahan dengan gaji yg pas-pasan selama ini. Walaupun banyak lowongan kerja dengan gaji yg lebih menggoda diluar sana. Dia kekasih saya, orang yg selalu memberikan sejuta semangat. Membantu saya tenang ketika hati sedang bergelut dengan masalah, juga wanita sholeha yg selalu mengingatkan saya dengan ibadah.
Namanya shareefa, orangnya imut dan manis, juga mancung. Sekitar delapan bulan lebih menjalin hubungan, suka duka saya lewati dan saling berbagi dengannya. Dari dia juga saya belajar memiliki pendirian,perubahan. Saya belajar banyak hal positif dari dia. Juga saya harus bangkit dan memiliki usaha untuk modal melamarnya.
Malam itu, kami ngobrol panjang lebar melalui telefon. Pembahasan tentang saya meminta izin untuk merantau kekota buat buka usaha sendiri. Dan saya terus terang untuk tujuan kekota dengan maksud memiliki usaha sendiri dengan penghasilan yg lebih mapan agar bisa melamar dia.
Kami terlahir dari perbedaan materi yg jauh, yg membuat saya harus esktra berjuang dalam usaha untuk bisa memiliki nya menjadi seseorang yg halal dunia dan akhirat. Katanya dia tidak malu memiliki kekasih yg miskin materi, yg terpenting bagi dia,calon suami mau berusaha maksimal dan tidak pantang menyerah. Karena dahulunya orang tua nya juga orang susah. Kerja keras yg membuat mereka menjadi orang sukses dan dipandang di desa mereka.
Dari cerita dia lah yg membuat semangat saya terpacu untuk lebih esktra bekerja keras dan bersemangat dan tidak pantang menyerah pula dengan kegagalan kecil.
Saat tiga bulan saya sudah dikota, ternyata perlahan semuanya berubah. Saya tidak lagi mendapati dia yg dahulu. Sekarang dia lebih diam tanpa ada kabar. Hatipun mulai bergelut lagi, dan pikiran bertanya kenapa sekarang seperti mulai menghindari. Apakah dia sudah memiliki pengganti, yg mencuri hati dan cintanya. Dalam lamunan diam, saya dikejutkan dengan bunyi pesan masuk dari WhatsApp dari dia.
Karena saking rindunya saya coba merayu dalam isi chattingan itu. Dan akhirnya dia pun mencoba terus terang dengan kejadian selama ini. Benar saja, dia telah duluan dilamar orang. Dan kali ini dia tidak bisa lagi menolaknya,karena orang tua dan seluruh keluarga nya telah setuju.
Mata pun pitam dan hati terasa sangat perih. Sekuat tenaga menahan air mata dan mencoba mencari jalan terbaik. Saya ihklaskan dia dipinang orang, dan saya berkata kepadanya bahwa tidak memaksa pilihan nya. Asalkan itu yg terbaik dan bisa membimbing dia.
Hari-hari tak lagi indah sejak kejadian itu. Saya putuskan tidak lagi menghubungi nya, walau kadang dia coba duluan menyapa. Beribu pertanyaan ada dihati, tapi kadang-kadang saya coba lupa dan hibur diri.
Sampai saat ini, ketika ada nama dan foto yg berkaitan dengannya, hati itu kembali pilu. Apakah itu tentang rindu,saya yakinkan hati bahwa rasa sekarang hanya palsu.
Tentang apa yg terjadi belakangan itu, dia tetap wanita baik yg pernah saya kenal dan temu. Hanya tentang takdir saja yg tidak mendukung, tapi kedepannya saya yakin bahwa,
"Kelak empedu yg pahit itu akan berubah menjadi madu"
Semua hanya perlu usaha dan waktu
Dan saya coba tidak lagi rindu
Karena mungkin jalannya bukan jalanku....
Like and share jika berkenan dihati para pembaca
